komput@si (ISSN 2086-5317) http://www.komputasi.lipi.go.id

Indonesia Segera Miliki Pusat Unggulan Teknologi Biometrik
R-15

Indonesia diharapkan segera memiliki Pusat Unggulan Teknologi Biometrik. Kehadiran pusat unggulan ini dinilai penting seiring adanya e-KTP dan rencana pemanfaatannya untuk berbagai kepentingan publik di masa mendatang.

Pusat Unggulan Teknologi Biometrik ini sudah dirintis sejak 2013 oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan diharapkan akan berdiri pada tahun 2014.

Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Hammam Riza mengatakan urgensi pusat unggulan teknologi biometrik dilatarbelakangi oleh perlunya dukungan penelitian, pengembangan, perekayasaan (litbangyasa) terhadap program e-KTP.

Program e-KTP lanjutnya merupakan integrasi berbagai teknologi informasi teknologi (IT) canggih, meliputi antara lain teknologi chip, teknologi smart card, teknologi biometrik, database dan teknologi sekuriti.

"Teknologi biometrik merupakan kunci utama dalam menentukan ketunggalan nomor induk kependudukan yang didasarkan pada keunikan informasi biometrik seseorang," katanya di Jakarta, Sabtu (4/5).

Di sisi lain, saat ini belum ada industri dalam negeri yang mampu memasok teknologi biometrik untuk keperluan identifikasi maupun verifikasi berbasis sidik jari dan iris berskala besar seperti dalam program e-KTP.

Oleh karena itu BPPT berperan sebagai institusi litbangyasa pemerintah yang bertujuan melakukan penguasaan teknologi, lewat transfer teknologi dari luar negeri ke pelaku teknologi di dalam negeri, mendorong penelitian dan pengembangan biometrik baik di kalangan akademisi maupun industri.

Diharapkan dengan adanya Pusat Unggulan Teknologi Biometrik maka Indonesia mampu secara mandiri memanfaatkan teknologi identifikasi sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional di bidang teknlogi informasi dan komunikasi (TIK).

Menurut Hammam penguasaan teknologi biometrik, baik Automated Fingerprint Recognition(AFIS), iris recognition, face recognition yang dipakai di e-KTP maupun modality yang lain seperti DNA, suara, dan sebagainya sangat penting.

Penguasaan teknologi ini diharapkan juga dapat membantu kesinambungan pengelolaan data center e-KTP, maupun pengembangan aplikasi biometrik dengan memanfaatkan e-KTP di generasi kedua.

Selain itu teknologi biometrik juga dapat melakukan pengukuran dan pengujian terhadap modul biometrik e-KTP reader. Di sisi lain kehadiran teknologi ini akan menjalin kolaborasi dengan industri lokal, start up company, universitas dan berbagai lembaga litbangyasa yang lain dalam riset dan pengembangan teknologi biometrik untuk kepentingan nasional.

Kehadiran Pusat Unggulan Teknologi Biometrik lanjutnya dapat mendorong kemandirian bangsa di bidang teknologi, khususnya teknologi biometrik, mengembangkan teknologi berbasis biometrik yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendorong tumbuhnya industri dalam negeri (industri nasional) di bidang biometrik, agar dapat meningkatkan tingkat komponen dalam negeri di berbagai komponen teknologi yang memanfaatkan e-KTP sebagai alat identifikasi dan otentikasi.

Di samping itu pusat biometrik dibuat seiring adanya rencana pemanfaatan e-KTP generasi kedua. Hammam menambahkan saat ini teknologi e-KTP memanfaatkan teknologi dari luar negeri karena belum ada industri nasional yang mampu menanganinya.

Data biometrik dengan skala 172 juta yang terdiri dari data 10 sidik jari, 2 iris dan wajah, merupakan data terbesar kedua di dunia, setelah data biometrik UID India.

Pengolahan data tersebut memerlukan teknologi komputasi canggih di sisi hardware maupun software, yang hingga kini belum dimiliki dan dikuasai oleh Indonesia.

"Pada pemanfaatan e-KTP di generasi kedua, lewat upaya kolaborasi dengan industri lokal, start up company, universitas dan lembaga litbang, diharapkan industri dalam negeri sudah mampu mengembangkan teknologi berbasis biometrik untuk pemanfaatan e-KTP bagi layanan publik," paparnya. [R-15]

Sumber : Suara Pembaruan, 4 Mei 2013


revisi terakhir : 4 Mei 2013