komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Rabu, 25 Mei 2022  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Forum informasi berita :

berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Dibuka INACATA 2007 : Ujilah di Lomba INAICTA 2007
    Oleh : Ninok Leksono
    Senin, 25 Juni 2007 (19:29 WIB) dari IP 125.160.99.105

    Riwayat India hingga sekarang masih terus menjadi buah bibir masyarakat dunia. Kekaguman banyak diucapkan, mengapa negara berpenduduk sekitar satu miliar jiwa yang sebagian masih miskin ini sekarang tinggal landas, dan satu hal yang menguatkan kekaguman tadi adalah besarnya peran teknologi informasi dan komunikasi dalam transformasi bangsa ini.

    Bahkan karena impresifnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK atau ICT) di India, kawasan TIK utama negeri itu di Bengalore sempat diperbandingkan dengan Silicon Valley di California, AS, yang ikonik dalam riwayat kemajuan TIK Amerika.

    Kemajuan India tersebut tentu menyiratkan adanya keunggulan sumber daya manusia (SDM) di bidang TIK karena mustahil satu reputasi terbangun tanpa dukungan infrastruktur riil. Selain memperkuat reputasi nasional, SDM TIK India konon juga diburu oleh negara-negara lain di Eropa yang juga terpacu mengembangkan industri TIK.

    Berbicara tentang SDM TIK ini sesungguhnya Indonesia juga punya potensi tidak kecil. Ketika tampil dalam final kontes yang diselenggarakan oleh Google di India sekitar dua tahun silam, kontestan Indonesia mengalahkan rival dari India. Selain memenangi lomba internasional, putra-putri Indonesia juga tidak sedikit yang dipercaya memegang jabatan TIK di perusahaan multinasional. SDM TIK Indonesia punya kemampuan dalam pembuatan aplikasi dan konten, seperti yang sudah banyak ditemui untuk bidang pendidikan, juga untuk animasi dan game. Bahkan pada sisi lain pun, ada SDM Indonesia yang mengambil jalur sebagai hacker dan cracker.

    Yang disayangkan, berbagai potensi TIK yang ada di Tanah Air sejauh ini tidak berhasil ditangkap, diwadahi, dan dikembangkan secara nasional, baik oleh pemerintah maupun oleh industri, sehingga efek positif seperti yang diperlihatkan oleh India tidak muncul di sini.

    Bakat-bakat tersebut seolah berjalan sendiri, tidak ada link dengan industri, sehingga tidak sedikit karya Indonesia yang lalu justru diadopsi oleh pihak asing, yang lebih siap menerima karya tersebut dan menghargainya secara memadai.

    INAICTA 2007

    Tampaknya untuk merespons situasi seperti itu, Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) sesuai tugas pokok dan fungsinya terpanggil untuk mengajak seluruh komunitas dan masyarakat TIK untuk mendorong pertumbuhan industri TIK dengan memanfaatkan bakat dan kemampuan nasional. Sebagai langkah pertama untuk mewujudkan hal ini, Depkominfo bersama seluruh pemangku kepentingan (stake holder) TIK akan menyelenggarakan "Indonesia ICT Awards" (INAICTA). Untuk pertama kalinya INAICTA yang direncanakan berlangsung setiap tahun ini akan diluncurkan di Jakarta oleh Menteri Kominfo Mohammad Nuh Selasa (26/6). INAICTA diharapkan menjadi ajang penghargaan bergengsi yang didedikasikan bagi pengembangan kompetensi SDM TIK di Indonesia.

    Pertama-tama, INAICTA ditujukan untuk mencari dan mendapatkan, sekaligus mempromosikan pencapaian terbaik dari para pelaku TIK Indonesia, baik dari kalangan pemula, profesional, maupun organisasi. Selanjutnya, ajang INAICTA juga dimaksudkan untuk memacu prestasi dan membangun inovasi guna memenuhi kebutuhan lokal sehingga citra dan produk TIK asli Indonesia meningkat, baik dalam lingkup nasional maupun internasional.

    Tentu yang tidak kalah penting adalah melalui ajang INAICTA dapat tercipta peluang usaha bagi para pemula TIK sehingga tercipta dan terjalin hubungan bisnis yang saling menguntungkan di antara para pelaku industri TIK di Tanah Air.

    Satu hal lain yang juga merupakan elemen penting dari INAICTA adalah semangat untuk mandiri di bidang TIK karena melalui ekspose semacam ini, lembaga pemerintah dan swasta nasional bisa diberi gambaran tentang produk TIK dalam negeri dan berikutnya mau menggunakannya. Apabila ini terwujud, akan berkembang pula jati diri bangsa dan bagi para muda berbakat bisa menumbuhkan rasa percaya diri dalam menghadapi kompetisi global. Dalam kaitan ini pula INAICTA akan memfasilitasi dan mempersiapkan pemenang INAICTA untuk berkompetisi di tingkat dunia, seperti Asia Pacific Award (APICTA) dan World Summit Award (WSA).

    Dalam kaitan lomba INAICTA tahun 2007, Panitia menetapkan 10 kategori yang akan dinilai untuk mendapatkan award, yakni 1. Riset dan pengembangan, 2. Proyek mahasiswa (tersier dan sekunder), 3. Pendidikan, 4. E-Government dan Layanan Publik, 5. Komunikasi, 6. Aplikasi industri keuangan, 7. Aplikasi proses bisnis, 8. Hiburan, 9. Perusahaan baru (start-up company), dan 10. Aplikasi umum.

    Acara yang dimulai pada akhir Juni ini akan berlangsung hingga Oktober, dan Presiden RI dijadwalkan akan memberikan INAICTA 2007 kepada para pemenang di Istana.

    Informasi lebih jauh mengenai INAICTA 2007 dapat dilihat pada www.ina-ictawards.or.id dan www.ina-ictawards.web.id.

    Merespons tantangan global

    Kalau kemudian muncul ide untuk menyelenggarakan INAICTA, dan sebelumnya membentuk Dewan TIK Nasional, sebetulnya Indonesia sudah berada dalam alam kesadaran yang benar karena memang sekarang dan ke depan peradaban dan khususnya perekonomian akan ditentukan oleh seberapa kuat satu bangsa menguasai TIK. Sedikit terlambat mungkin karena futuris seperti Alvin Toffler sebetulnya sudah mengingatkan bangsa-bangsa melalui bukunya Third Wave (1980) akan besarnya peranan TIK.

    Karena terlambat, Indonesia lalu berada di belakang dibandingkan dengan tetangga-tetangganya di Asia Tenggara, khususnya Singapura dan Malaysia, apalagi di Asia secara keseluruhan yang melibatkan Jepang dan Korea Selatan. Profil keterbelakangan Indonesia di bidang TK antara lain diperlihatkan oleh rendahnya penetrasi komputer dan internet. Dewasa ini penetrasi komputer dan internet baru sekitar 10 persen dari jumlah penduduk, sementara di negara tetangga angka tersebut telah mencapai 70 persen dan di negara maju pada umumnya mendekati 90 persen. Situasi ini melahirkan apa yang dikenal sebagai kesenjangan digital atau digital divide.

    Guna menanggulangi situasi yang ada, sejumlah langkah sebenarnya juga telah ditempuh secara global. Misalnya saja melalui satu komputer untuk setiap anak yang digagas oleh kalangan Massachusetts Institute of Technology. Kini program yang melibatkan pembuatan komputer laptop seharga sekitar 100 dollar AS (di bawah Rp 1 juta) ini akan mulai dirasakan oleh anak-anak Libya.

    Ketika menyerahkan Bubu Awards awal April lalu di Jakarta, Menkominfo (waktu itu) Sofyan Djalil mengatakan, infrastruktur TIK di Indonesia akan ditingkatkan, khususnya dengan penurunan tarif pipa telekomunikasi (bandwidth), yang sejauh ini dirasakan masih amat mahal. Hasilnya diharapkan akan mulai dirasakan satu-dua tahun ini.

    Lalu ketika berbicara di depan Seminar Kebangkitan Nasional di UI beberapa pekan lalu, Menkominfo Mohammad Nuh juga menegaskan akan membuat seluruh desa di Indonesia punya akses telekomunikasi.

    Semoga berbagai langkah tersebut memberi kontribusi konkret terhadap kemajuan TIK di Tanah Air, yang pada gilirannya kelak diharapkan bisa memberi daya saing dan prestise bagi bangsa yang dalam banyak hal masih berada dalam keterpurukan ini.


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 1 Maret 2004 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI