komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Sabtu, 21 Mei 2022  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Adam, Si Robot Peneliti
-

Tidak spektakuler, tapi ini nyata. Penemuan dan eksperimen laboratorium pertama oleh robot.

Dalam beberapa dekade belakangan ini, robot-robot sukses menggantikan hingga jutaan tenaga manual di dunia industri. Kini robot-robot itu merambah dunia yang lain, yakni laboratorium. Mereka mengincar menggantikan peran para peneliti.

Sebuah laboratorium robotik otomatis sukses mendesain eksperimen-eksperimen biologi molekulernya sendiri. Seperti yang dipublikasikan lewat jurnal Science terbaru, mesin robot yang satu ini bahkan sudah membuat penemuan pertamanya dengan menjawab fungsi 12 enzim dalam sel Saccharomyces cerevisiae (sel ragi untuk membuat bir).

Kolega yang ideal, begitu tim peneliti "gado-gado" (dari berbagai bidang ilmu) di "Aberystwyth University, Inggris, menyebut ciptaannya itu. Adam, nama robot itu, di antaranya dibekali dengan program-program algoritma untuk bisa membantu melakukan eksperimen repetitif hingga ratusan kali tanpa jenuh.

Penelitian sekelas utak-atik sel ragi seperti yang dilakukannya mungkin standar, tapi tetap dibutuhkan dengan tingkat akurasi yang sem-purna. Toh keberhasilannya dengan 12 enzim itu membuat Adam resmi menjadi mesin pertama yang secara independen tanpa bantuan manusia menemukan informasi ilmiah baru. Dalam pekerjaannya itu, Adam tidak cuma mengidentifikasi peran beberapa gen dalam ragi, tapi juga merencanakan eksperimen lanjutan guna menguji hipotesisnya sendiri.

Sel ragi mudah dipelajari dan menjadi contoh obyek penelitian yang sederhana. Para ahli biologi menggunakan sel-sel ini untuk meneliti sistem biologis kehidupan yang lebih kompleks. Meski begitu, belum semua dari 6.000 gen yang ada pada ragi diketahui fungsinya.

Total ada 20 hipotesis yang dibangkitkan oleh Adam dengan gen-gen yang mengkodekan 13 macam enzim yatim-piatu alias enzim yang belum dikenal fungsinya. Adam menggunakan informasi yang sudah tersedia tentang semua fungsi gen yang sudah diketahui untuk membuat prediksi tentang peran gen yang belum diketahui yang mungkin bermain peran dalam pertumbuhan sebuah sel.

Peran itu lalu diuji dengan melihat untaian sel ragi, yakni gen yang sedang diteliti fungsinya telah dipindahkan ataupun dinonaktifkan. Sel yang sudah dimutasi itu diseleksinya, diinkubasi, dan diukur laju pertumbuhannya tanpa bantuan manusia. Hasilnya, fungsi 12 dari 13 enzim itu sudah mendapat konfirmasi.

"Seperti mobil, jika Anda melepas satu komponen dari dalam mesinnya lalu coba menghidupkan dan mengendarainya, Anda bisa tahu apa fungsi komponen tadi," Ross King dari Departemen Ilmu Komputer di Aberystwyth University ketua tim pencipta Adam si robot peneliti itu, menjelaskan.

King yang profesor di bidang biologi komputasi itu mengakui keberhasilan yang dibuat Adam tidak ter-golong luar biasa. Tapi setidaknya itu nyata. "Ini jelas kemajuan dalam ilmu pengetahuan," katanya.

Lagi pula, King menambahkan, robot seperti Adam yang bisa melakukan 1.000 eksperimen setiap hari akan sangat berguna memangkas waktu sebuah proyek penelitian sehingga peneliti sungguhannya bisa mengerjakan eksperimen yang lebih maju. "Adam kini memang masih prototipe, tapi dalam 10-20 tahun saya kira jumlah mesin-mesin seperti dia bisa menjamur di laboratoriumlaboratorium," kata King.

Will Bridewell, peneliti kecerdasan buatan di Stanford University, California, Amerika Serikat, setuju terhadap prediksi itu meski kesuksesan penelitian Adam dinilainya masih setara mahasiswa yang baru lulus. "Mungkin memang masih jauh. tapi ada kecenderungan kita akan sampai sana. Adam adalah sebuah langkah menuju ke sana," ujarnya.

Proyek robot peneliti Adam didanai pemerintah Wales dan Dewan Riset Ilmu Biologi dan Bioteknologi (BBSRC) di Inggris sebesar US$ 1 juta (belum termasuk biaya untuk tetap meneliti). Meski begitu, Janet Alien, pakar biologi eksperimen yang menjadi direktur riset di BBSRC, mengaku puas.

Menurut dia, Adam akan sangat membantu di laboratorium karena membuat koleganya manusia memiliki waktu lebih untuk menganalisis hasil-hasil penelitiannya. "Ketika robot-robot petama kali muncul di laboratorium, orang-orang membayangkan bakal bisa menciptakan rangkaian data yang sangat pan-jang," katanya, "Tapi sejatinya kita juga harus memikirkan kemampuan bekerja dengan data yang sangat panjang itu."

Menurut Alien, Adam adalah sebuah cara yang bisa mengkombinasikan eksperimen di laboratorium dengan ilmu komputasi. "Sebuah kombinasi yang bisa mengolah angka-angka dan mengubah data mentah ke dalam pengetahuan ilmiah," katanya.

Sumber : Koran Tempo (6 April 2009)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 7 April 2009

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI