komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Sabtu, 21 Mei 2022  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Pemerintah Perlu Bentuk Dewan Komputasi Nasional
sazili mustofa

Pakar komputer Universitas Gunadarma Prof Dr Achmad Benny Mutiara mengatakan untuk mengoptimalkan dan mengefektifkan proses pemanfaatan simulasi komputer bagi pembangunan di Indonesia, pemerintah perlu membentuk Dewan Computational Science Nasional (DCSN).

Dewan ini dapat menjadi koordinator dan pengarah penelitian di bidang computational science(Cos). Dengan adanya DCSN, penelitian-penelitian yang tersebar di berbagai lembaga dan perguruan tinggi menjadi lebih fokus, tepat guna, dan sesuai dengan kebutuhan.

”Lembaga itu semacam dewan penasihat untuk presiden dan sangat membantu dalam berbagai hal, termasuk dalam penanganan krisis negara,”papar Benny kemarin. Guru besar Universitas Gunadarma ini mengatakan, DCSN nantinya memiliki fasilitas komputer yang sangat lengkap.

Menurut dia, sejumlah negara seperti Amerika Serikat sudah menjalankan DCSN. Dewan ini dapat menjadi motor penggerak penelitian di bidang Cos. Hasilhasilnya diharapkan dapat bermanfaat bagi kelangsungan hidup,ketahanan,dan keamanan bangsa.

”Sesuai karakter dan dinamika yang ditangani, DCSN dapat bersifat sangat rahasia dan strategis dalam pembangunan dan pertahanan serta keamanan bangsa.Seyogianya, struktur organisasi DCSN langsung berada di bawah presiden. Jadi dapat memberikan nasihat kepada presiden apa yang harus dilakukan,”ujar doktor lulusan Jerman ini. Menurut Benny,Indonesia tak harus mengeluarkan biaya mahal untuk membentuk DCSN.

”Manfaatnya banyak, seperti penanganan krisis di Indonesia, termasuk mengantisipasi bahaya bencana alam gempa bumi dan tsunami. Dengan simulasi komputer dapat terbaca terlebih dulu sehingga bisa dihindari korban yang lebih banyak,”katanya.

Sementara terkait perkembangan ilmu pengetahuan di Tanah Air, pakar psikologi Universitas Gunadarma Prof Dr AM Heru Basuki menilai, meski pelajar Indonesia memenangkan beberapa olimpiade sains dan matematika, prestasi tersebut belum mengangkat posisi Indonesia dalam mutu pendidikan di tingkat internasional.

Selama ini banyak keluhan dari masyarakat tentang rendahnya mutu pendidikan. Salah satunya dapat dilihat dari hasil penelitian Program Penilaian Siswa Internasional atau Programme International Student Assessment (PISA).

Program ini melakukan penelitian terhadap siswa usia 15 tahun dari negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OKEP) sebanyak 57 negara,termasuk Indonesia. ”Hasilnya, prestasi sains siswa Indonesia menduduki posisi ke-50 dari 57 negara.Thailand saja di peringkat 46,” ungkap Heru.

Sementara prestasi siswa Indonesia dalam membaca berada dalam posisi ke-48 dari 56 negara.Posisi itu di bawah Thailand yang berada di urutan ke-41. Kemudian, prestasi siswa Indonesia dalam ilmu matematika pada peringkat ke-50 dari 57 negara.

”Posisi Thailand ke-44,” ucapnya. Dengan demikian, kata Heru, siswa Indonesia pada usia 15 tahun dalam sains,membaca, dan matematika dalam posisi terendah dari beberapa negara di Asia,bahkan lebih rendah dari Thailand.

Pola pendekatan proses pembelajaran harus diubah untuk memperoleh lulusan-lulusan yang berkualitas. Untuk itu,pihaknya telah melakukan beberapa terobosan.”Sudah tiga tahun kami menerapkan metode e-learning dalam proses belajar.Langkah ini harus terus diperbaiki,”jelasnya.

Sumber : Seputar Indonesia (15 Januari 2009)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 24 Januari 2009

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI