komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Sabtu, 21 Mei 2022  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Kompetensi Lulusan Sains Dasar Tidak Jelas
NAW

Implementasi sains dasar untuk menunjang pengembangan riset dan inovasi industri sampai saat ini masih lemah, antara lain akibat kompetensi lulusan pendidikan sains dasar tidak jelas. Ini disebabkan pula oleh budaya riset dengan pengembangan sains dasar yang belum terbangun.

Demikian dipaparkan Edy Soewono dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam lokakarya arah kebijakan riset bertema ”Peran Strategis MIPA dalam Menghadapi Tantangan Bangsa”, Kamis (30/10) di Jakarta.

”Kondisi pendidikan sains dasar MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) di Indonesia sampai sekarang belum mampu untuk penetrasi ke hilir (sektor industri),” kata Edy.

Implementasi sains dasar untuk menghadapi masalah bangsa sangat terbuka lebar, kata dia. Dimulai dari penanganan masalah pengentasan warga dari kemiskinan, ketahanan pangan, ketahanan energi, dan sebagainya.

Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) Andrianto Handojo pada kesempatan itu mengatakan, sains dasar masih dipandang sebagai bidang ilmu yang diwarnai kerumitan. Padahal, dengan implementasi dasarnya dapat menguak fenomena alam untuk mencari manfaat-manfaat yang dibutuhkan umat manusia. ”Menara matahari (solar tower), salah satu contoh implementasi sains dasar untuk memperoleh manfaat menggerakkan turbin pembangkit listrik,” kata Andrianto.

Memicu implementasi

Pembicara lainnya, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Prasetya mengemukakan, metode lomba karya ilmiah di berbagai jenjang pendidikan turut memicu implementasi sains dasar. Contohnya, pada perlombaan karya ilmiah SMP dengan proposal pengobatan sariawan dengan perpaduan jeruk nipis dan getah pohon jarak. Menurut Bambang, memadukan dua unsur tanaman itu menuntut pemahaman sains dasar biologi.

Ketua Persatuan Aktuaris Indonesia Riyanto Djojosugito dalam lokakarya tersebut menjelaskan, untuk mengaitkan industri dengan universitas atau lembaga ilmiah dibutuhkan ”jembatan”. Di bidang aktuaris (asuransi, investasi, dan konsultasi), sains dasar sangat menunjang dalam hal statistika.

Sumber : Kompas (31 Oktober 2008)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 2 November 2008

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI