komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Sabtu, 21 Mei 2022  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Satu Processor Enam Core
Deddy Sinaga

Intel akhirnya meluncurkan generasi baru processor server, Xeon, untuk kawasan Asia Pasifik, kemarin. Peluncuran dilakukan secara serentak melalui media telekonferensi, termasuk di kantor Intel Indonesia di Jakarta.

Total, ada tujuh processor yang bernama lain Dunnington itu. Masing-masing cip mengandung empat sampai enam core.

Dari perspektif hardware, Xeon 7400 adalah produk pertama Intel yang memakai cache level 3 dengan total 16 megabita. Secara teknis, performa processor ini pun lebih meningkat 50 persen bila dibandingkan dengan seri sebelumnya: Xeon 7300 yang memakai cache level 2.

Meski kekuatannya meningkat, processor yang diproses dengan teknologi 45 nanometer ini malah lebih hemat listrik hingga 10 persen dibanding pendahulunya. Menariknya, pengguna yang sudah terlebih dulu mengadopsi seri 7300 tak perlu pusing meng-upgrade sistemnya. Sebab, soket antara seri lawas dan baru sudah kompatibel.

Seri 7400 juga sudah mendukung konfigurasi 16 soket. Artinya, sebuah server bisa mengandung 96 core untuk berbagai aplikasi. Dengan demikian, kapasitas memori, jalur komputasi, dan skalabilitasnya juga jauh lebih luas.

Sejumlah perusahaan, seperti HP, IBM, NEC, Fujitsu-Siemens, dan lain-lain, telah mencatatkan rekor performa dengan empat sampai delapan soket.

Intel juga menyebut seri 7400 ini sebagai gerakan menuju era Virtualisasi 2.0. Beberapa waktu lalu, Intel telah memperlihatkan keseriusannya dalam mendorong pasar ke era virtualisasi dengan mengakuisisi VMware.

Virtualisasi memiliki makna beragam, tergantung pemakaiannya. Bagi sudut pandang development, virtualisasi adalah cara menguji software baru tanpa menyebabkan persoalan pada keseluruhan sistem.

Sedangkan dari sudut pandang keamanan, virtualisasi bermanfaat untuk menguji aplikasi yang terjangkit virus ataupun gejala yang mencurigakan di lingkungan terisolasi. Keamanan sistem keseluruhannya pun terjaga.

Saat ini, virtualisasi yang berkembang adalah generasi 1.0, di mana perusahaan masih berkutat pada konsolidasi server. Satu server mengoperasikan satu atau lebih lingkungan virtual agar dapat mengoperasikan lebih banyak aplikasi.

Nah, pada generasi 2.0, era virtualisasi adalah eranya pengelolaan sumber daya yang lebih fleksibel dan efisien. Demi memuluskan langkah ini, Intel menambahkan fitur FlexMigration bagi mereka yang ingin melakukan standardisasi virtualisasi pada infrastrukturnya.

"Fitur ini membuat mesin bisa bermigrasi dari satu generasi awal ke generasi masa depan tanpa persoalan," kata Shannon Poulin, Enterprise Marketing Director Server Platforms Marketing Group Intel.

Country Manager Intel Indonesia, Budi Wahyu Jati, mengatakan virtualisasi menyeluruh adalah impian Intel, meski secara bisnis hal itu tak menguntungkan. "Sekarang kan semuanya ke arah sana. Isunya adalah soal penghematan energi dan maintenance," ujarnya.

Di Indonesia, kata Budi, virtualisasi malah belum populer. Pengadopsi generasi 1.0, berdasarkan estimasi pribadinya, malah hanya 35 persen. Persoalannya adalah budgetnya terbatas dan kekhawatiran ambruknya sistem.

Sumber : Tempo Interaktif (17 September 2008)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 19 Oktober 2008

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI