komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Sabtu, 21 Mei 2022  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Robot Pemecah Rekor Jalan Cepat
wah

Robot sederhana dengan dua kaki bernama RunBot tidak dapat berlari. Namun, ia mampu berjalan cepat bahkan memecahkan rekor robot-robot sebelumnya.

Robot buatan para peneliti Eropa setinggi 30,5 centimeter ini mampu berjalan dengan kecepatan sekitar 3 meter perdetik atau sebanding dengan kemampuan manusia. Kemampuannya berjalan dua kali kecepatan robot tercepat sebelumnya Spring Flamingo buatan Institut Teknologi Massachusetts (MIT).

"Ada beberapa prinsip yang dipakai di sini sehingga desain ini lebih efisien daripada robot tercepat sebelumnya," kata pakar komputasi otak Florentin Worgotter dari Universitas Gottingen Jerman. Seperti manusia yang sedang berjalan cepat, lutut RunBot relatif lurus saat berjalan. Pinggulnya lebih banyak digunakan untuk melangkahkan kaki daripada mengayun lututnya.

Para peneliti juga melengkapinya dengan jaringan syaraf tiruan sederhana yang fungsinya meniru syaraf manusia. Dua buah sensor bekerja seperti neuron untuk mengendalikan motor-motor di pinggulnya.

Sensor-sensor di bagian pinggul akan memberitahu motor untuk berputar lebih cepat sehingga menghasilkan langkah lebih banyak. Neuron-neuron di lutut menjaga agar bagian tersebut tetap kaku untuk menghasilkan langkah yang efisien dan tidak menekuk saat berjalan cepat.

"Ketika berjalan lambat, lututnya menekuk, ketika berjalan cepat tidak," kata Worgotter. Sensor di telapak kakinya mengukur apakah kakinya menapak tanah atau tidak. Begitu kakinya menapak tanah, sensor di kakinya akan memicu gerakan reflek untuk menggerakkan kaki lainnya sehingga kedua kaki bergantian melangkah.

Kaki robot yang dapat menekuk bermanfaat untuk mempermudah berjalan dan meningkatkan keseimbangan sehingga stabil saat berjalan cepat. Selain itu, robot juga menjalankan taktik tersendiri untuk mencapai kecepatan setinggi itu.

Dalam satu siklus berjalan, motornya mati sekitar seperempat waktu yang diperlukan. Pada saat itu, robot hanya memanfaatkan momentumnya sendiri untuk bergerak ke depan. Saat badannya terhuyung ke depan, motor bekerja kembali sehingga dapat menjaga badannya tidak jatuh.

"Tapi, pada dasarnya robot tersebut baru berjalan cepat dan bukan berlari. Sebab, pada setiap siklusnya, pasti terdapat sebuah kaki yang menapak di tanah. Padahal, untuk berlari, ada saat-saat kedua kaki melayang di udara," kata Worgotten. Menurutnya, mereka harus dapat mengatasi masalah ketidakstabilan pada kondisi tersebut.

Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi para peneliti dari Universitas Gottingen, Universitas Glasgow, dan Universitas Stirling Skotlandia. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam International Journal of Robotics Research edisi Maret.

Sumber : Kompas (2 Mei 2006)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 23 Desember 2007

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI