komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Sabtu, 21 Mei 2022  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Hidung Sonar Kelelawar
-

Cuping hidung seekor kelelawar mampu memancarkan sonar dalam berbagai cara, tergantung frekuensinya. Rolf Muller, peneliti fisika komputasi di Shandong University di Jinan, Cina, telah menyisir gua-gua di Asia Tenggara untuk menyelidiki bagaimana hal itu terjadi. "Kami mencari spesies berbeda untuk memahami seluk beluk fisik mereka," kata Muller.

Menurut model Muller, hidung kelelawar bekerja seperti antena, dan telinga mereka menjadi cakram penangkap suara. Tak hanya pakar biofisika yang tertarik untuk mengetahui bagaimana binatang itu bisa mengembangkan sistem rumit, ahli robotik juga terpukau pada kemampuan kelelawar. Mereka mencoba mencari cara navigasi baru dalam situasi yang tidak memungkinkan sensor cahaya bekerja, termasuk saat malam atau di bawah air.

Beberapa studi biofisika mengungkap, bila cuping hidung kelelawar dibengkokkan ke belakang, maka navigasinya terganggu. Begitu pula bila struktur kompleks yang mengelilingi lubang hidung itu diolesi petroleum jelly.

Muller memindai wajah kelelawar Rufous horseshoe (Rhinolophus rouxii) dengan sinar X untuk membuat model komputer tiga dimensi terhadap lubang hidung itu. Kemudian dia menembakkan gelombang suara dari berbagai frekuensi lewat model hidung tersebut untuk melihat bagaimana gemanya, dan bagaimana gelombang itu dipancarkan.

Suara frekuensi tinggi bergema dalam sebuah struktur dalam sella, bagian hidung belakang, dan dipancarkan dari cuping hidung sebagai gelombang sempit terfokus.

Suara berfrekuensi rendah bergema dalam sebuah rongga yang disebut lancet, di puncak cuping hidung. Alur pada lancet menciptakan sumber empat suara sekunder, sehingga sonar dipancarkan dari enam sumber, bukan cuma dari dua lubang hidung. "Hal ini memperlebar gelombang, sehingga suara tersebar ke sekelilingnya dengan lebih baik," kata Muller.

"Gelombang lebar inilah yang mungkin berguna bagi navigasi secara umum," kata Muller. Pancaran gelombang lebih sempit berguna untuk mengejar mangsa atau menghindari obyek tertentu.

Sumber : Koran Tempo (22 November 2007)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 1 Desember 2007

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI