komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Sabtu, 21 Mei 2022  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Dengan IGOS Irit Ongkos
Sapto Pradityo (Tempo)

Pemerintah meluncurkan sistem operasi komputer gratis IGOS Nusantara. Pembelian peranti lunak bisa dihemat hingga 60 persen.

Microsoft tersandung batu di Venezuela. Presiden Hugo Chavez sejak 2004 memerintahkan agar semua komputer kantor pemerintah bermigrasi dari sistem operasi Microsoft Windows ke Linux. Dia beralasan: belanja lisensi peranti lunak komputer telah melebihi anggaran untuk mengatasi kemiskinan. Selain itu, pindah ke Linux merupakan cara "menghentikan ketergantungan pada peranti lunak milik orang lain".

Pemerintah Indonesia mengambil langkah serupa dengan Venezuela. Pekan lalu, Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Komunitas Open Source meluncurkan sistem operasi Linux gratis IGOS Nusantara 2006. Sistem operasi ini merupakan ujung tombak program Indonesia Go Open Source (IGOS), yang dicanangkan 30 Juni dua tahun lalu, untuk mendorong migrasi dari sistem Windows ke sistem open source.

Open source adalah istilah untuk peranti lunak yang kode sumbernya terbuka, bebas diakses, bebas dimodifikasi dan didistribusikan. Staf ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi Richard Mengko menghitung, jika program migrasi ke open source berjaya, biaya pembelian lisensi peranti lunak bakal dihemat hingga 60 persen.

IGOS Nusantara bukan senjata pertama program ini. Pada Juli 2005, pemerintah meluncurkan IGOS Sistem Desktop Nasional (SDN). Namun, IGOS berbasis Linux SuSE yang dikembangkan oleh Konsorsium IGOS itu butuh spesifikasi komputer yang tinggi. Minimal harus komputer dengan prosesor setara Intel Pentium III. Ini mengakibatkan proses adopsinya lambat. Sudah begitu, IGOS SDN juga tidak disebarkan secara gratis.

IGOS Nusantara sama sekali tidak perlu komputer canggih. "Di Intel Pentium I juga bisa jalan," kata Ketua Proyek IGOS Prof. Engkos Koswara. Syaratnya, komputer punya memori 128 megabita, harddisk 3 gigabita, dan kartu VGA 4 megabita.

Paket IGOS Nusantara yang berbasis Linux Fedora Core 5 sudah memuat aplikasi penjelajah internet Mozilla Firefox, aplikasi surat elektronik Thunderbird, pesan instan GAIM, aplikasi audio Rhythmbox Music Player, pengolah grafis GIMP, dan OpenOffice. Engkos menyatakan, "Kalau hanya untuk mengetik, mengolah data dan grafis sederhana, IGOS Nusantara lebih dari cukup."

Seperti IGOS SDN, menu IGOS Nusantara menggunakan bahasa Indonesia. Misalnya, menu Trash diterjemahkan tong sampah dan menu Sound & Video diterjemahkan suara dan video. Bagi yang terbiasa menggunakan ikon berbahasa Inggris, memang bakal perlu sedikit penyesuaian.

Jika IGOS SDN hanya diperuntukkan bagi satu komputer (stand alone), IGOS Nusantara dapat dipakai sebagai klien dari server. Proses instalasi IGOS Nusantara juga lebih gampang. Yang lebih penting, IGOS Nusantara dibagikan secara gratis dan bebas digandakan. Plus, sebagai sistem berbasis Linux, IGOS Nusantara tak perlu terlalu repot menahan serangan virus.

IGOS gratis diharapkan dapat jadi alternatif mengatasi pembajakan, terutama bagi kantor pemerintah yang jelas perlu mengirit anggaran. Apalagi, Departemen Komunikasi dan Informasi mulai Februari 2007 akan melakukan sensus peranti lunak ke semua kantor pemerintah. "Dalam dua atau tiga tahun lagi, semua komputer di kantor pemerintah sudah harus bebas peranti bajakan," kata Cahyana Ahmadjayadi, Direktur Jenderal Aplikasi Telematika, Departemen Komunikasi dan Informasi.

Toh, kampanye penggunaan Linux yang dilakukan pemerintah belum cukup memuaskan bagi Kelompok Pengguna Linux Indonesia-Jakarta. Menurut Resza Ciptadi, aktivis komunitas ini, pemerintah seharusnya bersikap tegas mendukung proyek open source. Jika perlu meniru langkah Hugo Chavez yang pada awal bulan lalu terpilih kembali sebagai Presiden Venezuela hingga 2012. "Pemerintah jangan hanya berdiri di tengah-tengah," ucap Resza.

Ia yakin jika pemerintah mendukung penuh kampanye pemakaian Linux, ongkos membayar lisensi peranti lunak dapat dipangkas habis. Duit negara pun tidak akan lari ke luar negeri, karena sebagian besar aplikasi dibuat tangan-tangan lokal.

Resza sadar salah satu masalah terbesar pada Linux adalah sedikitnya program aplikasi. Justru karena itu, pemerintah harus mendorong pengembangan sistem ini, sehingga aplikasi berbasis Linux semakin banyak. Soal teknologi dan kemampuan dalam membuat program itu, menurut dia, "tukang-tukang" pengembang peranti lunak lokal siap diadu dengan tenaga asing.

Sumber : Tempo (Edisi. 42/XXXV/11 - 17 Desember 2006)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 16 Desember 2006

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI