komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Sabtu, 21 Mei 2022  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

IT CAMP 2006 : Belajar (yang) Menyenangkan
red

Kaki belum pegal ketika dua regu pertama peserta grand final IT Camp 2006, yang sedang trekking di lembah Gunung Gede Pangrango, Taman Safari Indonesia, Bogor, menghentikan langkah mereka. Pada sepotong jalan setapak pada pagi yang dingin, pemandu menjelaskan pohon penghasil kolang-kaling di depan rombongan.

Lalu, terdengar sahutan, "Yang dikolak seperti apa, sih?"

Sementara yang lain bertanya, beberapa anggota regu lainnya, yang adalah para siswa SD, sibuk memotret menggunakan kamera digital mini. Siswa lainnya mencatat atau sekadar mendengar keterangan sambil manggut-manggut.

Begitu pula ketika pemandu menjelaskan jenis tanaman yang disebutkannya berasal dari jenis fulus kebo. Dengan antusias, anggota regu dari beberapa sekolah dan daerah yang sebelumnya tidak saling kenal itu saling mengajukan pertanyaan. "Gunanya di hutan untuk apa?"

Ada pula yang terfokus pada akurasi penulisan, "Tulisan fulus seperti fulus yang artinya duit itu, ya?"

Informasi-informasi yang meluncur dari bibir pemandu dicatat. Sebagian informasi dijadikan bahan pertanyaan lanjutan. Namun, tak jarang jadi bahan tertawaan di antara mereka pada perjalanan berikutnya.

Dengar saja dialog di regu lain ketika dijelaskan mengenai pohon nangka. Batang pohon nangka yang tergores itu mengeluarkan getah tebal kental kecoklatan.

"Hiii... apaan tuh?" celetuk salah satu peserta dari Jakarta sambil menggetarkan bahunya. Rupanya ia baru pertama kali melihatnya getah pohon nangka.

"Kok mirip madu, ya, manis sekali?" celetuk anggota regu yang lain. "Coba kamu makan kalau manis?" sahut teman di belakangnya.

"Lha, itu lagi di-makanin semut. Semut, kan, doyan yang manis-manis."

"Semut yang makan celana gue, tau!" seru teman lain sambil mengibas-kibaskan telapak tangannya pada bagian bawah celana panjangnya yang dirayapi semut. Lalu, mereka pun tertawa.

Perbincangan khas ala anak- anak dan gerak-geriknya sepanjang perjalanan tiga kilometer itu memang menggelikan. Ada peserta yang hampir sepanjang jalan selalu berkomentar sambil memotret obyek yang menarik perhatiannya, sekalipun kadang hasilnya kabur.

Ada pula yang pendiam. Berjalan sambil mencatat informasi yang diperolehnya.

Dari berbagai komentar selama trekking memang tidak seluruh peserta (80 anak) benar-benar menikmati kegiatan pagi itu. Rute berliku dan menanjak membuat sebagian peserta terengah-engah. Wajah mereka pun memerah.

Bagi peserta yang kelelahan, keindahan alam berikut kicauan riang burung-burung hutan seakan tak berkesan. Air terjun setinggi sekitar tiga meter pada jalur menanjak sama sekali tak digubris. Meski pelan, kaki terus melangkah dengan harapan segera tiba di tujuan.

Bagi peserta yang lebih kuat, pertanyaan terus mengalir. Kamera terus merekam gambar. Informasi semakin banyak.

Trekking pagi itu memang dirancang panitia IT Camp 2006 dari PT Bangun Satya Wacana (BSW) sebagai ajang bagi peserta untuk mengumpulkan informasi, baik tulisan atau foto. Bahan-bahan itulah yang akan dijadikan materi pembuatan desain situs web. Panitia hanya memberi pelatihan dan aturan lomba.

Jadilah foto-foto lumut, semut, burung, berbagai jenis tanaman dan bunga, hingga petugas penjaga lintasan trek yang berkumis tebal dan berkacamata hitam. Namanya juga anak-anak.

Kreatif dan mandiri

Sebelumnya, para peserta dibawa mengunjungi satwa-satwa liar di Taman Safari Indonesia (TSI) dan menonton aneka hiburan. Semua merupakan bagian dari kegiatan observasi lingkungan.

Pada hari pertama di TSI, peserta dibekali teori, termasuk bagaimana mengumpulkan informasi. Lalu, praktik observasi lingkungan mengumpulkan bahan lomba. "Proses pembuatan desain situs web benar-benar mengandalkan kemampuan dan kreativitas regu," kata Ade Suhendar dari seksi acara IT Camp 2006.

Sebagai ilustrasi gambar, peserta memilih foto-foto dari folder yang berisi gabungan semua hasil foto mereka. Saat lomba berlangsung, masing-masing regu berbagi tugas di depan sebuah komputer. Mereka bebas berkreasi untuk membuat tampilan situs seindah mungkin dan navigasi seinformatif mungkin. Isi situs minimal lima halaman.

Peserta kategori SD mendesain situs web dalam program power point yang disimpan dalam bentuk web. Sementara, kategori SMP bekerja menggunakan program from page.

Selama sekitar empat jam, 20 regu berkonsentrasi di depan komputer. Ada yang mengetik, ada yang menyiapkan tulisan, ada pula yang memberi masukan gambar atau warna yang menarik. Peserta kategori SD diikuti 10 sekolah dari Jakarta, Bandar Lampung, Palembang, Medan, Semarang, Bandung, Surabaya, dan Balikpapan. Sementara 10 regu kategori SMP berasal dari Jakarta, Depok, Bandar Lampung, Palembang, Medan, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan Balikpapan.

Antusias

Mayoritas peserta kategori SD maupun SMP yang ditemui menyatakan antusiasme mereka. Sekalipun komunikasi dengan keluarga dibatasi, mereka mengaku senang.

Observasi lingkungan, seperti trekking di tengah lintasan becek, terhalang batu atau batang pohon, mendaki tanjakan, hingga melintasi sungai merupakan pengalaman baru bagi hampir semua peserta. Apalagi ditambah tugas mengumpulkan informasi sebanyak mungkin untuk bahan lomba.

"Seru banget," kata Maria Monica dari SD Vianney Jakarta.

Beberapa peserta yang ditemui tegas berharap lomba digelar setiap tahun. Bahkan ada yang meminta di daerah terpencil. "Lebih menarik kalau desain web pemenangnya yang ditampilkan di internet," kata Tirsa Dinarsari dari SMP Bopkri I Yogyakarta.

Sekalipun regunya tidak masuk tiga besar, Tirsa mengaku senang dapat mengikuti acara seperti IT Camp 2006. Ia tetap ceria dan menikmati rangkaian lomba, sekalipun keluarganya harus mengungsi karena rumahnya di Yogyakarta roboh akibat gempa.

Seperti misi panitia, sebagian peserta memang mengaku tidak menjadikan juara sebagai tujuan. Yang jelas, juara atau tidak, semua peserta menikmati pengalaman belajar secara kreatif dan mandiri. Di grand final IT Camp 2006, teori yang sering diulas bahwa belajar itu menyenangkan menemukan wujudnya. Entah ketika mereka kembali ke sekolah....

Sumber : Kompas (27 Juni 2006)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 27 Juni 2006

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI