komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Sabtu, 21 Mei 2022  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Robot Takut Cahaya : Dengan sejenis jamur, robot bisa bergerak menghindari cahaya
Tjandra Dewi

Dengan sejenis jamur, robot bisa bergerak menghindari cahaya. Penggunaan jamur lendir berwarna kuning terang sebagai sensor cahaya ini mempermudah cara mengendalikan tingkah laku robot.

Jamur lendir Physarum polycephalum, yang dapat tumbuh sampai berdiameter beberapa meter ini, akan bertanggung jawab untuk menggerakkan robot berkaki enam. Secara alami, jamur ini memang pemalu dan selalu menghindari sinar. Dengan sifat ini, jamur akan mengontrol pergerakan robot sehingga tak terkena cahaya dan mencari tempat gelap untuk menyembunyikan diri.

Pembuatan jamur pengendali robot ini dilakukan Klaus-Peter Zauner di University of Southampton, Inggris, bersama rekannya dari Kobe University, Jepang. Zauner mengatakan gagasannya untuk menemukan cara yang lebih sederhana untuk mengendalikan pergerakan robot. "Komputer yang kami miliki hari ini sangat tepat untuk mengujinya," kata Zauner. "Tapi, dalam lingkungan yang rumit atau berlawanan, cenderung tidak berhasil."

Physarum polycephalum adalah organisme satu sel berukuran besar yang merespons sumber makanan, seperti bakteri dan cendawan, dengan bergerak maju dan menelannya. Jamur ini juga bergerak menjauhi cahaya dan menyukai tempat yang lembab.

Dia menggunakan sebuah jaringan yang terbentuk dari rangkaian saluran kecil berisi sitoplasma untuk merasakan lingkungannya, sekaligus bagaimana bertindak menghadapinya. Tim Zauner memutuskan untuk memanfaatkan mekanisme kendali sederhana ini untuk mengarahkan robot kecil berkaki heksapoda ini.

Untuk mewujudkan gagasan ini, Zauner dan timnya menumbuhkan jamur berlendir ini dalam bentuk bintang bermata enam di puncak sirkuit dan dikoneksikan ke robot melalui komputer. Setiap kali sensor yang ditempelkan ke atas robot menangkap sinar, informasi itu dipakai untuk mengontrol sorotan cahaya ke salah satu dari enam mata atau poin sirkuit yang ditumbuhi jamur. Masing-masing poin itu berhubungan dengan satu kaki robot.

Ketika lendir itu berusaha menjauhi cahaya, gerakannya ditangkap sirkuit dan digunakan untuk mengontrol salah satu kaki robot. Robot akan merayap menjauhi pancaran cahaya, hasil penjelmaan mekanisme jamur itu. Pada akhirnya, tipe kontrol ini dapat digabungkan ke dalam robot itu sendiri.

Zauner yakin ahli mesin perlu mempelajari jenis mekanisme kontrol sederhana ini, terutama untuk memperkecil komponennya. "Pada ukuran nanometer, kami harus mempelajari bagaimana bekerja dengan komponen otonom," ujarnya. "Kami harus membiarkan molekul itu bergerak secara alami."

Dengan penemuan ini, Biologi siap mempengaruhi evolusi robot. Sebagai contoh adalah penelitian Chris Melhuish di University West of England, Bristol, Inggris, yang mengembangkan robot mandiri, yang membangkitkan tenaganya dengan memakan lalat.

"Otonomi komputasi sudah lama dipelajari," kata Ioannis Ieropoulos dari tim University of Western England. "Untuk robot yang benar-benar mandiri, tingkat kerumitan komputasinya bergantung pada energi yang tersedia."

Proyek robot lendir ini dipresentasikan dalam "Workshop Internasional Kedua tentang Pendekatan Biologi terhadap Kemajuan Teknologi Informasi" di Osaka, Jepang. Kegiatan ini berlangsung pada 26 dan 27 Januari.

Sumber : Koran Tempo (18 Februari 2006)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 17 Mei 2006

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI