komput@si lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5317 Sabtu, 21 Mei 2022  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Kecoa Pengemudi Robot
Yandhrie Arvian

Kecoa dapat cekatan mengarahkan robot menghindar dari setiap benda yang menghalanginya.

Kamu mungkin jijik melihat kecoa. Apalagi jika tubuh hitamnya tengah mengais-ngais di tempat kotor. Tapi tidak bagi Garnet Hertz, lulusan University of California. Nyatanya, dari hewan inilah ide nakalnya lahir, yakni memanfaatkan kehadiran seekor kecoa untuk menggerakkan robot.

Uniknya, kecoa yang digunakannya itu tak lain untuk menghasilkan sistem navigasi robot yang lebih baik. Caranya, menempatkan kecoa di atas sebuah bola yang menjadi sistem kemudi robot.

Ide ini, menurut Hertz, guna mengatasi masalah navigasi yang kerap terjadi pada robot. "Di masa lalu, robot-robot belum sepenuhnya cekatan," katanya seperti dikutip harian New York Times awal pekan ini. Ia lalu mencontohkan adanya robot yang kesulitan berjalan, misalnya dari titik A ke titik B. Belum lagi ditambah sistem navigasi yang tidak praktis dan kompleks.

Hertz juga terinspirasi dari para perintis robot, semisal Rodney Brooks dari Massachusetts Institute of Technology. Brooks sempat menyarankan bahwa kecerdasan robot harus menyerupai kecoa atau serangga lainnya. Pasalnya, serangga tanggap dengan sendirinya dan dapat bereaksi cepat terhadap lingkungan.

Karena itu, Hertz memakai kecoa Madagaskar yang kerap bersuit, yakni Gromphadorhina portentosa. Kecoa ini dapat tumbuh hingga seukuran tikus kecil. Adapun robot--berbentuk laiknya kereta beroda tiga setinggi lutut--dibuatnya pada musim panas 2004 lalu. Tepat di atas struktur aluminium robot, bertengger sebuah trackball komputer yang telah dimodifikasi, seukuran bola ping-pong.

Lalu kecoa yang memiliki empat kaki itu menunggangi bola. Jika kecoa berlari di atasnya, robot akan bergerak sesuai dengan arah yang dikehendaki, seperti saat kecoa berjalan di lantai. Agar tetap berada di atas bola, punggung kecoa diikat dan ditekan oleh sebuah material yang disebut Velcro yang berlaku sebagai sabuk pengaman.

Hertz juga berhasil membuktikan bahwa kecoa tidak menyenangi cahaya. Ini dapat pada dilihat saat kecoa yang diisolasi dari cahaya setengah lingkaran. Cahaya itu baru akan menyala penuh sesaat sebelum robot mendekati benda. Namun, kecoa selalu berusaha agar cahaya tidak menyala. Caranya, dengan cekatan ia akan mengarahkan robot untuk menghindari setiap benda yang menghalanginya.

Tapi biologi tidak dapat diprediksi sebaik teknologi. Ada kalanya kecoa tampak gembira duduk di atas bola tanpa bergerak sedikit pun selama beberapa menit. Kerap beberapa kecoa mengabaikan cahaya. Bahkan ada juga kecoa yang terlihat menikmati tabrakan robot dengan dinding.

Kendati begitu, penggunaan kecoa tentu menjadi daya tarik tersendiri. Karena itu, Hertz berharap, percobaan yang dilakukannya dapat memberi inspirasi bagi perkembangan sistem komputasi terhadap biologi dan mengatasinya dengan robot biohibrid.

Sumber : Koran Tempo (11 Juni 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 3 Desember 2005

 

PERHATIAN : komput@si berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 1 Maret 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2022 LIPI